TEMANGGUNG – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Temanggung menggelar Kajian Pimpinan di PRM Banyuurip pada Kamis malam, 15 Oktober 2026. Kegiatan yang berlangsung di Masjid Al Ikhlas Banyuurip, Banyuurip Tengah, Kabupaten Temanggung, ini menghadirkan Ustadz Hasan Abu Arfa sebagai pemateri.

Kajian yang berlangsung mulai pukul 17.30 hingga 19.30 WIB tersebut diikuti oleh para pimpinan dan warga Muhammadiyah setempat. Kegiatan ini menjadi salah satu ikhtiar untuk memperkuat pemahaman keislaman, mempererat silaturahmi, serta meningkatkan kualitas kehidupan beragama di lingkungan persyarikatan.
Dalam kajian tersebut, Ustadz Hasan Abu Arfa mengangkat materi tentang makna dan adab mengucapkan InsyaAllah (إِنْ شَاءَ اللهُ), sebuah ungkapan yang sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari umat Islam, tetapi kerap disalahpahami dalam penggunaannya.
InsyaAllah Bukan Sekadar Ungkapan, Melainkan Adab Tauhid
Ustadz Hasan Abu Arfa menjelaskan bahwa InsyaAllah berarti “jika Allah menghendaki”. Ungkapan ini mengandung pengakuan bahwa manusia hanya dapat merencanakan dan berikhtiar, sedangkan terwujudnya suatu rencana tetap berada dalam kehendak Allah SWT.
Karena itu, mengucapkan InsyaAllah bukan sekadar kebiasaan atau ungkapan basa-basi ketika menjawab sebuah ajakan maupun janji. Lebih dari itu, ungkapan tersebut merupakan bentuk ketundukan, tawadhu, dan kesadaran seorang hamba terhadap kekuasaan Allah SWT.
Dalam praktik sehari-hari, masih dijumpai penggunaan InsyaAllah sebagai cara halus untuk menolak ajakan atau menghindari komitmen, padahal sejak awal tidak memiliki niat untuk memenuhi janji. Sikap semacam ini perlu diluruskan karena dapat merusak kepercayaan dan bertentangan dengan nilai kejujuran yang diajarkan Islam.
“InsyaAllah bukan untuk menggantung janji atau menutupi ketidakjujuran, melainkan sebagai pengakuan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah, disertai kesungguhan dalam berusaha,” demikian pesan utama yang ditekankan dalam materi kajian.
Landasan Al-Qur’an dan Hadis
Pembahasan tentang InsyaAllah merujuk pada firman Allah SWT dalam Surah Al-Kahfi ayat 23–24:
وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ ۚ وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ
Artinya:
“Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, ‘Aku pasti melakukan itu besok pagi,’ kecuali (dengan mengatakan), ‘InsyaAllah.’ Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa.” (QS. Al-Kahfi: 23–24).
Ayat tersebut mengajarkan umat Islam agar tidak memastikan suatu rencana masa depan tanpa menyandarkannya pada kehendak Allah SWT. Manusia dituntun untuk menyadari keterbatasannya sekaligus tetap berusaha mewujudkan apa yang telah direncanakan.
Selain ayat Al-Qur’an, kajian juga menyinggung hadis tentang Nabi Sulaiman AS yang berkeinginan agar para istrinya melahirkan keturunan yang kelak berjuang di jalan Allah. Dalam hadis riwayat Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, Nabi Sulaiman tidak mengucapkan InsyaAllah sehingga keinginannya tidak terwujud sebagaimana yang diharapkan.
Kisah tersebut menjadi pelajaran tentang pentingnya menyandarkan rencana dan harapan kepada kehendak Allah SWT, tanpa mengabaikan ikhtiar dan tanggung jawab manusia.
Pentingnya Memahami Penulisan InsyaAllah
Materi kajian juga mengingatkan pentingnya memahami penulisan ungkapan InsyaAllah dalam bahasa Arab. Bentuk yang dimaksud adalah إِنْ شَاءَ اللهُ, yang berarti “jika Allah menghendaki”.
Penulisan tersebut berbeda dari إِنْشَاء, yang memiliki makna berkaitan dengan pembentukan atau penciptaan. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperhatikan susunan kata ketika menulis ungkapan berbahasa Arab agar maknanya tetap tepat.
Pemahaman ini penting, terutama di tengah kebiasaan berkomunikasi melalui pesan singkat dan media sosial, ketika ungkapan keagamaan sering digunakan tanpa memperhatikan makna dan penulisannya.
InsyaAllah Harus Disertai Ikhtiar dan Kejujuran
Lebih lanjut, penggunaan InsyaAllah perlu diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Ketika seseorang mengatakan akan hadir dalam suatu kegiatan, membayar utang, atau memenuhi janji, ia tetap berkewajiban menunjukkan kesungguhan untuk menepatinya.
Mengucapkan InsyaAllah tidak boleh dijadikan alasan untuk menghindari tanggung jawab. Sebaliknya, ungkapan tersebut semestinya mendorong seseorang untuk berikhtiar, menjaga amanah, dan menyadari bahwa hasil akhir berada dalam ketentuan Allah SWT.
Apabila suatu rencana tidak terlaksana karena keadaan di luar kemampuan manusia, ungkapan InsyaAllah mengingatkan bahwa tidak semua hal dapat berjalan sesuai keinginan. Namun, hal itu tetap harus disertai komunikasi yang baik, kejujuran, dan tanggung jawab terhadap orang lain.
Dengan demikian, InsyaAllah bukan alasan untuk mengabaikan janji, melainkan bagian dari adab seorang Muslim dalam merencanakan dan menjalani kehidupan.
Menguatkan Pemahaman Keislaman Warga Muhammadiyah
Melalui Kajian Pimpinan di PRM Banyuurip ini, diharapkan para peserta dapat membawa pulang pemahaman yang lebih baik mengenai makna InsyaAllah dan menerapkannya dalam kehidupan keluarga, pekerjaan, organisasi, serta interaksi sosial.
Kajian ini juga menjadi momentum untuk memperkuat budaya belajar, mempererat ukhuwah Islamiyah, dan menumbuhkan karakter warga Muhammadiyah yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Pesan utama yang dapat dipetik dari kajian tersebut adalah bahwa setiap rencana hendaknya disertai ikhtiar, doa, kejujuran, dan tawakal kepada Allah SWT.
InsyaAllah bukan sekadar ucapan, melainkan pengingat bahwa manusia berusaha sebaik-baiknya, menjaga amanah, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT.

