Saat Nafsu Mengalahkan Akal dan Iman

_Refleksi 17 Hari Menuju Ramadhan_

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali takut tersesat di jalan. Kita khawatir salah arah, salah tujuan, atau mengambil keputusan yang keliru. Namun ada hal yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar tersesat secara fisik — yaitu ketika nafsu mengalahkan akal dan iman.

Pesan inilah yang menjadi pengingat penting dalam momentum 17 Hari Menuju Ramadhan yang diangkat oleh Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Temanggung. Sebuah ajakan untuk merenung, membersihkan hati, dan menyiapkan diri menyambut bulan suci dengan kondisi iman yang lebih kuat.

Bahaya yang Tak Selalu Terlihat

Ketika seseorang tersesat di jalan, ia biasanya sadar bahwa dirinya salah arah. Ia akan berhenti, bertanya, atau mencari petunjuk agar kembali ke jalur yang benar. Namun berbeda halnya ketika nafsu telah menguasai diri.

Saat nafsu mengalahkan akal dan iman:

* Kesalahan terasa seperti kebenaran

* Dosa terasa ringan dan biasa

* Nasihat terasa mengganggu

* Kebenaran terasa pahit

Inilah kondisi paling berbahaya. Bukan karena kita tidak tahu, tetapi karena kita tidak lagi mau tahu. Hati menjadi keras, dan kebenaran tak lagi menyentuh jiwa.

Ketika Iman Melemah

Iman adalah cahaya. Ia membantu kita membedakan yang benar dan yang salah. Akal adalah penuntun. Ia membantu kita berpikir jernih sebelum bertindak. Namun ketika keduanya kalah oleh nafsu, manusia bisa terjebak dalam pembenaran diri.

Kita bisa:

* Tetap berbuat salah, tapi merasa paling benar

* Menyakiti orang lain, tapi merasa membela diri

* Mengabaikan kewajiban, tapi merasa punya alasan

* Padahal, yang terjadi sebenarnya adalah hati sedang tertutup.

Ramadhan: Momentum Mengembalikan Kendali

Ramadhan hadir sebagai madrasah ruhani. Ia melatih kita menahan lapar dan haus, tetapi tujuan utamanya jauh lebih dalam: melatih kita mengendalikan nafsu.

Baca juga :   Tanda Iman: Sedih atas Dosa dan Bangkit dengan Amal Saleh

Puasa bukan hanya menahan makan dan minum, tapi juga:

* Menahan amarah

* Menahan keinginan berlebihan

* Menahan lisan dari menyakiti

* Menahan hati dari iri dan dengki

Dengan latihan ini, iman kembali dikuatkan dan akal kembali dipimpin oleh nilai-nilai kebaikan, bukan oleh dorongan hawa nafsu.

Saatnya Mempersiapkan Diri

Masih ada waktu sebelum Ramadhan tiba. Inilah saat terbaik untuk mulai:

* Memperbanyak istighfar dan taubat

* Melatih diri menahan emosi

* Mengurangi kebiasaan buruk

* Mendekatkan diri pada Al-Qur’an dan majelis ilmu

Karena Ramadhan bukan hanya tentang datangnya satu bulan mulia, tetapi tentang siap atau tidaknya hati kita menyambutnya.

Jangan sampai kita memasuki Ramadhan dengan nafsu yang masih berkuasa, hati yang masih keras, dan iman yang masih lemah. Mari jadikan sisa hari menuju Ramadhan sebagai perjalanan memperbaiki diri.

_Karena yang paling berbahaya bukan sekadar tersesat di jalan, tetapi saat nafsu mengalahkan akal dan iman — lalu kita merasa tetap berada di jalan yang benar._ _#MenujuRamadhan_

Dakwah, Aksi & Kolaborasi

PCPM Temanggung

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *