Ramadhan semakin dekat. Dalam suasana persiapan menyambut bulan suci, kita sering fokus pada ibadah fisik seperti puasa, tarawih, tilawah, dan sedekah. Namun ada satu amalan yang sering terlupakan, padahal dampaknya sangat besar: menjaga lisan.
Flayer ini mengingatkan kita melalui nasihat Imam Thawus bin Kaisan رحمه الله:
_“Tidak ada sesuatu yang diucapkan oleh anak Adam kecuali akan dihitung, sampai pun rintihannya saat ia sakit.”_
(Shifatus Shafwah)
Lisan yang Tak Pernah Diabaikan
Setiap kata yang keluar dari mulut kita bukanlah hal sepele. Dalam pandangan Islam, ucapan adalah bagian dari amal yang dicatat. Bukan hanya perkataan besar seperti dakwah atau nasihat, tetapi juga keluhan kecil, gumaman, bahkan rintihan saat sakit — semuanya berada dalam hitungan Allah.
Ini menunjukkan betapa detail dan adilnya perhitungan amal di sisi-Nya. Tidak ada yang terlewat, baik kebaikan maupun keburukan.
Antara Pahala dan Dosa Ada di Ujung Lidah
Lisan bisa menjadi jalan menuju surga, tetapi juga bisa menjerumuskan ke dalam dosa tanpa kita sadari.
Dengan lisan, seseorang bisa:
* Mengucap dzikir yang mengangkat derajatnya
* Memberi nasihat yang menyelamatkan orang lain
* Menghibur hati yang sedang terluka
Namun dengan lisan pula, seseorang bisa:
* Menyakiti hati saudaranya
* Menyebarkan gosip dan fitnah
* Mengucap keluhan yang bernuansa protes pada takdir
* Semua itu dicatat. Tidak ada yang sia-sia.
Ramadhan: Madrasah untuk Menjaga Ucapan
Menjelang Ramadhan, pesan ini menjadi semakin penting. Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tapi juga menahan lisan dari hal yang sia-sia dan berdosa. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa orang yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.
Artinya, kualitas puasa kita sangat terkait dengan kualitas ucapan kita.
Ramadhan adalah momen latihan:
* Lebih banyak berdzikir daripada mengeluh
* Lebih banyak mendoakan daripada membicarakan
* Lebih banyak berkata baik atau memilih diam
* Saat Sakit Pun Bernilai
Menariknya, dalam nasihat Imam Thawus disebutkan bahwa bahkan rintihan saat sakit pun dihitung. Ini menunjukkan bahwa kondisi sulit pun bisa menjadi ladang pahala, tergantung bagaimana kita menyikapinya.
Rintihan yang disertai kesabaran, doa, dan harap kepada Allah bernilai ibadah. Sebaliknya, keluhan yang berisi ketidakridhaan bisa menjadi sesuatu yang merugikan.
Saatnya Muhasabah Sebelum Ramadhan
Dengan 19 hari menuju Ramadhan (sesuai pesan pada flayer), ini adalah waktu terbaik untuk mulai memperbaiki lisan kita. Sebelum memasuki bulan yang penuh pahala, mari kita latih diri untuk:
* Berpikir sebelum berbicara
* Mengurangi komentar yang tidak perlu
* Mengganti keluhan dengan doa
* Membiasakan dzikir dalam aktivitas harian
Karena bisa jadi, bukan hanya amalan besar yang menyelamatkan kita, tapi juga kata-kata kecil yang tulus dan penuh kebaikan.
Ramadhan sudah di depan mata. Mari sambut dengan lisan yang lebih bersih, hati yang lebih lembut, dan ucapan yang lebih terjaga. _#MenujuRamadhan_ Dakwah, Aksi & Kolaborasi
PCPM Temanggung

