Hakikat Orang Kaya

Dalam pandangan Islam, kekayaan bukan semata-mata diukur dari banyaknya harta yang dimiliki. Hakikat orang kaya sesungguhnya terletak pada kekayaan hati. Seseorang bisa saja memiliki harta berlimpah, namun jika hatinya dipenuhi rasa gelisah, tamak, dan tidak pernah merasa cukup, maka ia sejatinya masih berada dalam kefakiran batin.

Imam Syafi’i rahimahullah mengingatkan bahwa orang kaya adalah mereka yang hatinya dipenuhi sikap qana’ah—menerima dengan ridha segala ketetapan Allah. Qana’ah bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi sikap lapang dada setelah berikhtiar, disertai keyakinan bahwa apa yang Allah tetapkan adalah yang terbaik.

Hati yang ridha akan melahirkan ketenangan. Ia tidak mudah iri terhadap rezeki orang lain, tidak sibuk mengeluh atas kekurangan, dan senantiasa bersyukur atas nikmat sekecil apa pun. Inilah kekayaan sejati yang tidak bisa diukur dengan angka, tidak bisa habis oleh waktu, dan tidak bisa dicuri oleh keadaan.

Menjelang Ramadhan, momen ini menjadi pengingat bagi kita untuk memperbaiki cara pandang terhadap dunia. Ramadhan mengajarkan kesederhanaan, pengendalian diri, serta kepekaan hati. Dengan hati yang qana’ah dan ridha, kita belajar bahwa cukup bukan karena memiliki segalanya, tetapi karena mampu mensyukuri apa yang ada.

Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang kaya hati, tenang jiwanya, dan diberkahi hidupnya. Karena dengan hati seperti itulah, seseorang benar-benar disebut sebagai orang kaya. #MenujuRamadhan

Dakwah, Aksi & Kolaborasi

PCPM Temanggung

Baca juga :   Mengobati Kerasnya Hati dengan Zikir kepada Allah

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *