Dalam kehidupan ini, setiap manusia pasti ingin amal dan perbuatannya bernilai di sisi Allah SWT. Namun, Islam mengajarkan bahwa tidak semua amal akan kekal dan diterima. Ada amal yang tampak baik, terlihat indah di mata manusia, tetapi pada akhirnya bakal sirna—hilang tanpa bekas di hadapan Allah.
Ar-Rabi’ bin Khutsaim rahimahullah pernah mengingatkan bahwa segala perbuatan yang tidak diniatkan untuk mencari ridha Allah Azza wa Jalla, pasti akan sirna. Pesan ini menegaskan betapa pentingnya niat dalam setiap amal. Bukan banyaknya perbuatan yang menentukan nilai, melainkan keikhlasan hati di baliknya.
Di bulan-bulan menjelang Ramadhan, nasihat ini menjadi pengingat yang sangat relevan. Ramadhan bukan hanya tentang memperbanyak aktivitas ibadah, tetapi juga tentang meluruskan niat—apakah ibadah kita benar-benar untuk Allah, atau sekadar rutinitas, pencitraan, dan kebiasaan belaka.
Amal yang dilakukan demi pujian manusia, popularitas, atau kepentingan dunia, meskipun terlihat besar, tidak akan bernilai di akhirat. Sebaliknya, amal kecil yang dilakukan dengan ikhlas justru bisa menjadi pemberat timbangan kebaikan di hari hisab.
Mari jadikan momentum Menuju Ramadhan sebagai waktu untuk membersihkan niat, memperbaiki hati, dan menata kembali tujuan hidup. Semoga setiap langkah ibadah yang kita lakukan benar-benar lahir dari keikhlasan dan semata-mata mengharap ridha Allah SWT, sehingga tidak menjadi amal yang sirna, melainkan amal yang kekal dan diterima.
Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Temanggung
_Dakwah, aksi, dan kolaborasi_

